CARI

email

email: indradwicahyono@yahoo.com

Minggu, 05 Oktober 2014

CUPLIKAN RISKESDAS 2013 TENTANG HASIL KESEHATAN LINGKUNGAN

Topik kesehatan lingkungan pada Riskesdas 2013 bertujuan untuk mengevaluasi program yang sudah ada, menindaklanjuti upaya perbaikan yang akan dijalankan, dan mengidentifikasi faktor risiko lingkungan berbagai jenis penyakit dan gangguan kesehatan. Dengan diperolehnya data kesehatan lingkungan termutakhir, diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar kebijakan dalam upaya pengendalian penyakit berbasis lingkungan. Pada Riskesdas 2013 disajikan data kesehatan lingkungan yang meliputi, air minum, sanitasi (jamban dan sampah), dan kesehatan perumahan. Data kesehatan perumahan meliputi jenis bahan bangunan, lokasi rumah dan kondisi ruang rumah, kepadatan hunian, jenis bahan bakar untuk memasak, dan penggunaan atau penyimpanan pestisida/insektisida dan pupuk kimia dalam rumah. Di samping itu disajikan data perilaku rumah tangga dalam menguras bak mandi berkaitan dengan risiko penyebaran penyakit tular vektor (DBD, malaria).

Sebagai unit analisis adalah rumah tangga. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan pengamatan langsung di lapangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan keadaan kesehatan lingkungan menurut provinsi, tempat tinggal dan kuintil indeks kepemilikan.

Rabu, 18 Juni 2014

District Health Account (DHA)

District Health Account (DHA) atau Pembiayaan Kesehatan di Daerah, dengan diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2014, maka kebutuhan akan Health Accounts ditingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten semakin penting dan nyata. Health Account ditingkat Nasional (National Health Account), Provinsi (Provincial Health Account) dan Kabupaten (District Health Account) merupakan salah satu pendekatan perencanaan berbasis bukti (evidence based health financing) yang mana perencanaan pembiayaan kesehatan pada tahun yang akan datang telah direncanakan berdasarkan bukti dan analisa pengeluaran kesehatan terkini.
Apa itu Health Accounts?
Secara singkat, Health Accounts (HA) merupakan suatu cara pemantauan yang sistematis, komprehensif serta  konsisten terkait pemanfaatan aliran dana/pembiayaan pada sistem kesehatan (health spending). Tujuannya adalah mengukur alur pengeluaran yang ada ditingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten sehingga pembiayaan kesehatan ditahun yang akan datang dapat diproyeksikan secara tepat sasaran dan tepat manfaat. Strategi pengukuran yang digunakan adalah menggunakan sistem standard internasional yang telah disepakati oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Manfaat besar dari adanya Health Accounts adalah identifikasi area intervensi kesehatan, mengusulkan intervensi pembiayaan kesehatan sesuai kebutuhan, memonitor dan mengevaluasi intervensi serta mengurangi kemungkinan pengeluaran kesehatan yang tidak disesuai kebutuhan dan kebijakan.
Seperti apa dampak pembiayaan kesehatan terhadap masyarakat miskin dan hampir miskin?

Pada dasarnya negara melalui sistem kesehatan menjamin pelayanan kesehatan, pencegahan (preventif), promosi (promotion) dan pengobatan (kuratif).  sumber dana untuk pengobatan pada tahun 2014 akan di-cover melalui skema SJSN kesehatan sementara untuk pembiayaan preventif dan promotif akan bersumber dari kantong BOK (Biaya Operasional Kesehatan) maupun kantong-kantong lain dari APBN dan APBD. Prinsip pembiayaan kesehatan adalah keadilan dalam kontribusi pembiayaan dan perlindungan terhadap resiko keuangan berdasarkan dugaan bahwa sebaiknya rumah tangga dapat membayar bagiannya secara adil tanpa memperburuk keadaan finansial yang ada. Apa yang diindikasi adil tergantung pada perkiraan/dugaan normatif masyarakat dan bagaimana sistem kesehatan dapat membiayainya.
Keadilan dalam kontribusi pembiayaan mencakup dua aspek penting yakni risk-pooling diantara yang sehat dan sakit dan pembagian resiko (risk sharing) antar kemakmuran atau tingkat pendapatan. Penggabungan resiko merupakan dasar pemikiran kontribusi untuk biaya kesehatan adalah perawatan pada saat sakit. Artinya, setiap orang miskin yang sakit tidak diberikan beban ganda karena sakit dan karena ongkos perawatan kesehatan yang melebihi kemampuannya.  Keadilan dalam kontribusi pembiayaan  merupakan langkah kedepan untuk mengurangi pengeluaran tunai dari langsung (out of pocket expenses) bahkan mencegah pengeluaran yang catastrophic ketika salah satu anggota rumah tangga miskin menderita sakit.
“Setidaknya ada tiga point yang menjadi dasar perhitungan pembiayaan melalui skema jaminan kesehatan masyarakat miskin yakni 1) mengurangi pengeluaran kesehatan tunai langsung (out of pocket expenses), 2) mencegah atau mempersempit kemungkinan terjadinya pembiayaan catastrophic dalam rumah tangga miskin serta 3) membuka akses masyarakat miskin terhadap layanan kesehatan yang berkualitas..”
Disampaikan oleh Debbie Murhead, AusAID Senior Health Analyst pada saat pertemuan AIPHSS Technical Working Group, Mei 2013
Pengeluaran kesehatan tunai langsung (out of pocket expenses) dimaksud adalah besarnya biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memperoleh pelayanan kesehatan. Termasuk didalamnya biaya konsultasi dokter, pembelian obat, dan retribusi pelayanan kesehatan ataupun pengobatan alternative dan/atau tradisional. Pembiayaan Catastrophic adalah pembiayaan kesehatan yang mengakibatkan kondisi keuangan rumah tangga miskin semakin terpuruk dengan pengeluaran kesehatan melebihi 40% dari kapasitas membayar atau dari total pembelanjaan untuk sekedar bertahan hidup.
Dengan demikian perencaanaan  dan pemanfaaatan anggaran yang tepat sasaran dan tepat guna harus mampu menekan pengeluaran kesehatan tunai langsung (out of pocket expenses) beserta kemungkinan terjadinya pembiayaan catasptrophic oleh rumah tangga miskin. Jika kedua pengeluaran diatas tidak terkendalikan melalui kebijakan atau skema jaminan kesehatan yang disiapkan negara, maka jelas pembiayaan kesehatan negara tidak berhasil menjanggau kebutuhan masyarakat miskin dan hampir miskin bahkan sebaliknya dapat memperburuk kondisi kemiskinan yang sudah ada.
Apa saja cakupan analisis dari DHA?
Dalam menyusun health account, data berikut akan menjadi acuan
  1. Sumber pembiayaan (FS)
  2. Pengelola pembiayaan (HF)
  3. Penyedia Pelayanan (PP)
  4. Program (PR)
  5. Jenis Kegiatan (HA)
  6. Mata Anggaran (HI)
  7. Jenjang Kegiatan (HL)
  8. Penerima Manfaat (HB)
Dukungan Program AIPHSS untuk Health Accounts
Pemerintah Australia (AusAID) melalui Program AIPHSS bekerja sama dengan Pusat Pembiayaan Jaminan Kesehatan (PPJK) melakukan penguatan sistem pembiayaan kesehatan melalui berbagai kegiatan ditingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten antara lain: pembentukan databank NHA, CBG Evaluation and Capacity Building, Pemantauan Kinerja Teknis Penyelenggara Jaminan Kesehatan, Pembetukan Tim PHA/DHA, Pelatihan dan Pengumpulan data PHA/DHA, pertemuan sosialisasi tentang Health Account kepada stakeholder kunci di Provinsi dan Kabupaten, pelatihan fasilitator DHA dan pendampiongan penyususnan DHA serta penyusuan Pergub tentang Pelembagaan PHA.
sumber: http://aiphss.org/health-account-evidence-for-health-financing-planning/?lang=id

Selasa, 22 April 2014

Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) diterbitkan, PNS Pensiun 58 Tahun

JAKARTA Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menandatangani Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tanggal 15 Januari 2014, UU ini menggantikan Undang-Undang nomor 8 tahun 1974 juncto Undang-Undang nomor 43 tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.


Dalam pembangunan Sumber Daya Manusia Aparatur Negara di tahun 2012, ASN memiliki kekuatan dan kemampuan terbatas, karena asas merit tidak dilaksanakan secara efektif dalam manajemen SDM ASN. Hal itu ditunjukkan dengan rendahnya integritas, pengembangan kapasitas tidak dilaksanakan, kesejahteraan rendah, dan tidak berkeadilan.

Menuju tahun 2025, apalagi setelah disahkannya UU ASN, aparatur negara memiliki kekuatan dan kemampuan profesional kelas dunia, berintegritas tinggi, non parsial dalam melaksanakan tugas, berbudaya kerja tinggi, dan kesejahteraan tinggi. Serta dipercaya publik dengan dukungan SDM unggulan di bawah kepemimpinan presiden.

UU ASN telah melalui 84 rapat, antara lain rapat para menteri yang dipimpin Wakil Presiden, rapat pejabat senior Kementerian terkait, dan tiga rapat terbatas kabinet yang dipimpin oleh Presiden. Pemerintah membutuhkan 2,5 tahun untuk menyiapkan RUU ASN sebelum akhirnya sampai di meja DPR-RI, yang akhirnya menjadi RUU inisiatif DPR.

Perjalanan panjang Undang-Undang Aparatur Sipil Negara selama hampir tiga tahun akhirnya berbuah manis. Dengan berlakunya Undang-Undang nomor 5 tahun 2014 tentang ASN ini, pegawai negeri sipil (PNS) yang pensiun per Februari 2014 otomatis diperpanjang dua tahun.

Ditetapkannya batas usia pensiun PNS untuk pegawai pada jabatan administrasi menjadi 58 tahun dalam UU tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) mengundang perhatian masyarakat luas.  Banyak PNS terutama yang pada bulan Januari 2014 ini usianya sudah 56 tahun bertanya-tanya, kapan ketentuan itu berlaku. Apakah tetap menjadi PNS hingga 58 tahun, atau harus masuk purna tugas.

Sekretaris Kementerian  PANRB Tasdik Kinanto mengatakan, PNS yang pensiun per 1 Febuari 2014 ke atas, otomatis usia pensiunnya diperpanjang dua tahun lagi. Untuk pengaturan secara teknis, akan diterbitkan Surat Edaran Kepala  BKN, ujarnya Tasdik, di Jakarta, Rabu (08/01).

Sementara itu, BKN telah menerbitkan Surat Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) sebagai petunjuk teknis untuk perpanjangan BUP bagi PNS yang pensiun per 1 Febuari 2014 ke atas telah diterbitkan. Surat Kepala BKN tersebut bernomor: K.26-30/V.7-3/99 tentang Batas Usia Pensiun (BUP) Pegawai Negeri Sipil (PNS) tertanggal 17 Januari 2014. Terkait BUP PNS,  sesuai Pasal 87 ayat (1) huruf c dan Pasal 90 UU Nomor: 5 Tahun 2014 tentang ASN, ditentukan bahwa PNS diberhentikan dengan hormat karena mencapai BUP, yaitu:

    1. 58 (lima puluh delapan) tahun bagi Pejabat Administrasi;
    2. 60 (enam puluh) tahun bagi Pejabat Pimpinan Tinggi; dan
    3. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi Pejabat Fungsional. 

Surat Kepala BKN yang mengatur BUP PNS tersebut sebagai landasan operasional sementara sambil menunggu ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur BUP PNS. 

Download :

Senin, 21 April 2014

Sanitasi Buruk, Indonesia Rugi Rp42 Triliun Per Tahun

Persoalan sanitasi di Indonesia masih menjadi masalah. Dampaknya secara ekonomis, negeri ini mengalami kerugian Rp42,3 triliun per tahun karena buruknya sanitasi.
Kerugian itu dilihat dari dampak luas akibat sanitasi. Mulai dari tingginya angka kesakitan, penanganan sampah dan lain sebagainya.
Situasi ini terjadi karena prilaku masyarakat Indonesia yang rendah dalam sanitasi. Ditambah lagi dengan sikap pasif pemerintah dalam program perubahan prilaku terhadap sanitasi.
Fakta itu terungkap pada media gathering STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang diselenggarakan USAID,
Sanitasi bersih harus dimulai dari prilaku masyarakat itu sendiri. Termasuk di dalamnya, prilaku buang air sembarangan (BABS), membuang sampah sembarangan, dan pengelolaan air minum yang aman.
Untuk sampah saja, katanya, merupakan masalah terbesar di perkotaan. Berbagai kasus bencana banjir akibat drainase yang tersumbat sampah. Belum lagi, polusi air sungai yang sangat merugikan.
“Sebagai contoh, air sungai digunakan perusahaan air minum untuk memasok air bersih kepada masyarakat. Jika banyak limbah, tentu diperlukan lebih banyaklagi zat kimiawi untuk membersihkannya. Ujung-ujungnya pihak PDAM menaikkan tarif kepada pelanggan,
Menurut penelitian, katanya, limbah yang dibuang ke sungai paling banyak berasal dari limbah rumah tangga. “Jadi yang membuat sungai tercemar itu justru disumbang sampah domestik yang merupakan dari rumah tangga,
Belum lagi persoalan septic tank yang aman. Soalnya, septic tank yang jaraknya dekat dengan air sumut tentu tidak bisa dijamin tercemar dari bakteri e-coli. “Kondisi ini, harus menjadi perhatian bersama. Soalnya, kita tidak bisa mengatakan bahwa sumur kita aman karena septic tank yang kita buat berjarak 10 meter, karena, bisa jadi sumur kita malah berada dekat dengan septic tank tetangga begitu juga sebaliknya.
Malah, di wilayah perkotaan, masyarakat memiliki jamban yang bagus, namun tidak saluran akhirnya di buang ke sungai. “Jadi untuk mengatasi ini, banyak hal yang bisa dilakukan, salah satunya dengan membentuk septic tank komunal di satu lingkungan. Selain itu, tinja yang diambil dari septic tank warga, tidak dibuang ke sungai, tapi diolah lagi dengan teknologi.
Pokja STBM Kemenkes , Catur, persoalan sanitasi ini memang masih menjadi masalah penting. Soalnya, salah satu fokus pencapaian tujuan pembangunan millenium (MDGs), tentang sanitasi. “Tapi, masih banyak desa yang belum bagus sanitasinya. Di Sumut sendiri, baru ada delapan desa yang sudah melaksanakan STBM,” ucapnya.
Program ini diharapkan bisa mengajak masyarakat untuk berprilaku sehat lewat sanitasi yang bersih. “Kita tidak mengajari. Dalam STBM tidak ada yang paling pintar, melainkan gerakan untuk memicu kesadaran berprilaku hidup bersih. Terpenting dalam hal ini tidak ada pemaksaan, melainkan kesadaran diri sendiri,” tuturnya.
Digambarkan Catur, masyarakat lebih senang membicarakan keganasan harimau dibandingkan lalat. Ini terjadi karena hewan buas itu lebih seksi isunya saat dinaikkan di media daripada lalat.
“Padahal faktanya, lalat lebih banyak membunuh manusia lewat penyakit daripada yang diserang harimau,” tegasnya.
Di sini mengharapkan media berperan untuk mengangkat pentingnya sanitasi bersih bagi masyarakat untuk menghemat anggaran kesehatan.

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/14/94115/sanitasi_buruk_indonesia_rugi_rp42_triliun_per_tahun/#.UNw4TG8Qbdg

Menghalau Kuman di Sekolah

SEKOLAH merupakan salah satu “sarang” kuman yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya. Anak-anak harus diberi pemahaman bagaimana menghindarinya.

Tahukah Anda jika sekolah adalah tempat yang paling disenangi “gerombolan”kuman penyakit untuk bersemayam dan berkembang biak.Bagaimanapun,sekolah merupakan tempat umum sehingga banyak orang yang datang dan pergi dari mana pun dan membawa kuman penyakit yang bermacam-macam.

Area seperti toilet yang kotor, kantin dengan makanan yang terkontaminasi, gunungan sampah yang tidak dibersihkan dan lokasi lainnya merupakan ancaman kesakitan yang bisa setiap waktu menyerang anak.Apalagi anakanak suka sekali menggosok-gosok, mengorek-ngorek,dan mengusap-usap hidung. Kebiasaan ini mengakibatkan mereka mudah terpapar kuman, bakteri,dan virus yang akhirnya masuk ke tubuh anak sehingga menimbulkan penyakit.

“Anak-anak yang berkumpul di sekolah adalah cara paling ampuh untuk kuman berkembang di sebuah komunitas,”kata Athena P Kourtis MD PhD MPH, seorang dokter anak dan penulis buku Keeping Your Child Healthy in a Germ-Filled World. Mengapa? Pertama,sistem kekebalan tubuh anak masih belum matang dibandingkan orang dewasa sehingga lebih rentan terhadap paparan kuman.Di sekolah, anak-anak berada dalam satu tempat dan saling berdekatan satu sama lain.Dan lagi,anakanak cenderung memiliki kebiasaan jorok,seperti menempelkan jari dan benda-benda kotor ke mulut.

Menggabungkan sejumlah faktor di atas dan kondisi lingkungan yang tidak memadai membuat penyebaran kuman di sekolah menjadi tak terhindarkan.“Tetapi beberapa jenis penyakit masih bisa dihindari.Dengan sebuah langkah yang sederhana,anak bisa terhindar dari bahaya,”ujar Philip Tierno PhD,penulis buku The Secret Life of Germs,seperti dikutip laman WebMD

Adapun yang banyak terjadi adalah,satu anak menderita batuk atau bersin di kelas sehingga menular ke teman-temannya. Atau satu orang sedang diare karena lupa mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi dan akhirnya menginfeksi semua benda yang dia sentuh.

“Karena itu,pencegahan dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun adalah hal yang amat penting,”sebut Albert Martinez,seorang dokter anak berbasis di San Diego,California, Amerika Serikat.Ajari anak untuk menggunakan air dan sabun, lalu gosok tangan selama 20 detik. Bekali anak Anda dengan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dengan kandungan alkohol agar terbebas dari kuman. Cairan pembersih tangan sebaiknya juga digunakan saat sebelum makan siang,setelah menggunakan mousekomputer bersama,rautan pensil,atau benda-benda di tempat umum lainnya.

Meskipun anak kadang ingin membagi makan siang dengan teman-temannya, ingatkan dia untuk tidak berbagi botol air,makanan,atau barangbarang pribadi lainnya. Survei morbiditas yang dilakukan Subdit Diare Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari 2000- 2010 terlihat tingkat kejadian penyakit diare meningkat terus dari 301/1.000 penduduk menjadi 411/1.000 penduduk.Sementara itu,Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan,di Indonesia sekitar 31.200 anak balita meninggal setiap tahun karena diare.

Hal ini akibat fasilitas sanitasi yang kurang memadai di sekolah, ditambah masih rendahnya budaya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),seperti kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS).Dra Cucu Cakrawati MKes,Kasubdit Pengamanan Limbah Udara dan Radiasi,Direktorat Penyehatan Lingkungan Kemenkes,menuturkan, penyediaan fasilitas cuci tangan di sekolah sangat penting. Hal ini juga merupakan upaya untuk mendukung kegiatan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yang menjadi program lintas sektor di bawah Kemenkes.

STBM merupakan upaya preventif yang hanya memerlukan kesadaran dan kemauan untuk mengubah perilaku menuju PHBS melalui penciptaan lingkungan bersih dan sehat,baik di lingkungan masyarakat maupun di sekolah, serta pengadaan sanitasi.

“Adapun strategi nasional STBM memiliki outcome indicator, yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku



http://health.okezone.com/read/2012/12/19/486/734579/menghalau-kuman-di-sekolah

8 Alasan Menghindari Gigitan Nyamuk

Nyamuk bukan hanya mengganggu, namun juga bisa menjadi ancaman bagi kesehatan manusia. Hanya dengan satu gigitan saja, nyamuk bisa menularkan penyakit yang mematikan. Nyamuk sulit diberantas begitu saja, mengingat hewan ini sangat mudah berkembang biak.
gigitan nyamuk
Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila untuk Hari Kesehatan sedunia pada 7 April 2014 lalu, Kementrian Kesehatan dan WHO mencanangkan upaya pencegahan nyamuk vektor. WHO mengusung slogan “Small Bite, Big Threat” (gigitan kecil, ancaman besar) untuk mengetuk kesadaran banyak orang terkait bahaya nyamuk.
Bahaya Gigitan Nyamuk
Berikut ini adalah beberapa alasan ilmiah mengapa sebaiknya anda menghindari gigitan nyamuk:
1. Menyebabkan demam berdarah

Sekitar 50 hingga 100 juta orang di dunia diketahui menderita demam dengue setiap tahunnya. Walaupun tidak selalu fatal, namun penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian anak di Asia dan Amerika Latin. Demam berdarah dapat membuat seseorang mengalami perdarahan yang berbahaya. Selain itu, sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah penularan penyakit ini.
2. Menyebabkan demam chikungunya
Gigitan nyamuk juga dapat menyebabkan seseorang mengalami demam chikungunya. Kata “chikungunya” diserap dari bahasa Tanzania yang memiliki arti “mengerut”, merujuk pada nyeri persendian yang parah. Manusia hanya mempunyai kekebalan yang sedikit saat menghadapi penyakit ini sehingga nyamuk dapat menyebarkan virus ini dengan cepat.
3. Menyebarkan demam kuning
Demam kuning atau yellow fever diderita kurang lebih 200.000 orang setiap tahunnya dan menyebabkan kematian hingga 30.000 orang. Penyakit ini datang pada seseorang akibat gigitan nyamuk dan belum diketahui obatnya. Setelah beberapa saat menderita sakit parah, sebagian besar penderita memang akan pulih, namun 15 persen penderita akan memasuki fase toksik, yaitu perdarahan serta organ-organ tidak berfungsi dengan semestinya.
Kasus demam kuning meningkat tajam semenjak tahun 1980-an. Hal ini disebabkan karena perubahan iklim, penurunan kekebalan, meningkatnya angka perpindahan manusia, dan penggundulan hutan. Vaksin untuk demam kuning sudah tersedia dan beberapa negara mewajibkan para pendatang atau turis untuk disuntik vaksin ini sebelum memasuki negara tersebut.
4. Menyebarkan virus West Nile
Walaupun penyakit west nile dibawa oleh burung, namun manusia juga dapat tertular khususnya dari nyamuk yang menggigit burung pembawa virus. Sebagian besar orang yang terinfeksi memang tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu, namun sebanyak 20 persen mengalami demam disertai nyeri pada tubuh, sakit kepala, diare, dan mual.
5. Penyakitnya mudah disebarkan
Setiap orang yang terinfeksi suatu virus akibat gigitan nyamuk memiliki kemungkinan membawa virus ini ke negara lain. Sebagai contoh kasus yang terjadi pada tahun 2007 dimana seorang pria Italia kembali ke negaranya setelah berlibur dari India. Tanpa disadari, ia telah digigit oleh nyamuk pembawa virus chikungunya. Setelah kembali ke negaranya, ia mengunjungi sepupunya. Tiga bulan kemudian diketahui lebih dari 200 orang di Italia terkena penyakit chikungunya.
6. Memperbesar risiko cacat permanen
Lymphatic filariasis merupakan penyakit tropis yang mulai dilupakan karena memang sudah jarang terjadi. Sebenarnya, penyakit ini telah menginfeksi 120 juta orang, dan sepertiga diantaranya diketahui mengalami kecacatan. Nyamuk menyebarkan parasit yang berukuran sangat kecil pada manusia lalu akan menjadi lymphatif secara perlahan-lahan selama kurang lebih 8 tahun. Parasit ini dapat merusak ginjal dan sistem imun, serta dapat menyebabkan bengkak pada kaki, tangan, dan organ genital.
7. Menyebarkan penyakit serius pada anak
Salah satu penyakit yang disebarkan oleh nyamuk adalah Japanese encephalitis. Walaupun demikian, manusia tidak dapat menularkan penyakit tersebut. Japanese encephalitis telah membunuh setidaknya 10.000 orang dalam setahun dimana sebagian besarnya adalah anak-anak balita. Meskipun tidak ada obat untuk penyakit ini, namun vaksinnya telah tersedia dan terbukti efektif.
8. Menyebarkan malaria
Penyakit malaria dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi parasit bernama plasmodium. Penyakit ini apabila tidak diobati dengan segera, maka dapat menyebabkan komplikasi yang berujung pada kematian. Antara tahun 2000-2012 terdapat penurunan kematian akibat penyakit malaria hingga 42 persen secara global. Walapun demikian, di tahun 2012 saja setidaknya sekitar 627 ribu orang meninggal akibat malaria. Selain itu, jumlah total orang yang terinfeksi penyakit malaria menembus angka 207 juta jiwa.


via Health Kompas | image : todayifoundout.com